:strip_icc():format(jpeg)/liputan6-media-production/medias/2281740/original/075337700_1531741551-Luka_Modric.jpg)
Saat Modrid berusia enam tahun, keluarganya menjadi pengungsi. Milter Serbia saat itu menyerang kota kelahiran Modrid, di Modrici, pada 8 Desember 1991. Kakeknya ditembak dan rumahnya dibakar. Keluarga Modric terpaksa mengungsi.
"Ketika perang pecah, kami menjadi pengungsi. Itu situasi yang sangat berat. Saya baru berusia enam tahun. Saya mengingat memori itu dengan jelas, tapi itu memori yang tak ingin Anda ingat," kata Modrid kepada The Sun.
Modric dan keluarganya pindah ke Kota Zadar, Kroasia, dan kesulitan membangun rumah. "Kami tinggal di hotel selama bertahun-tahun, karena mengalami kesulitan finansial. Tapi saya selalu menyukai sepak bola," imbuh Modric.
Menurut media Kanada The Loop, Modric tumbuh dengan berlatih sepeda di parkiran kosong. Namun, semua kesulitan itu malah membuat Modric menjadi kuat.
"Perang membuat saya kuat. Itu masa yang sangat berat bagi saya dan keluarga. Saya tak ingin terus mengingatnya, tapi juga tak ingin melupakannya begitu saja," imbuh mantan pemain Tottenham Hotspur itu.
https://www.liputan6.com/bola/read/3590986/luka-modric-bekas-pengungsi-kandidat-peraih-ballon-dor
No comments:
Post a Comment